Indonesia Menyandang Gelar “Negara dengan Tingkat Penggundulan Hutan Tertinggi Sedunia”

Indonesia Menyandang Gelar “Negara dengan Tingkat Penggundulan Hutan Tertinggi Sedunia”

Baru-baru ini, Jakarta dinobatkan sebagai kota paling macet di dunia. Tak perlu heran, sebab Indonesia sudah sering menyambar prestasi yang lebih mencengangkan dari ini. Di tahun 2014,  Indonesia juara 1 penggundulan hutan tertinggi di dunia, mengalahkan Brasil. Matthew C. Hansen, peneliti kawasan hutan dari University of Maryland, merilis data laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 2 juta hektar per tahun. Kehilangan luas hutan terparah terjadi di tahun 2011 – 2012. Dalam hasil riset itu disebutkan bahwa tren peningkatan penggundulan hutan terjadi di tahun 2000 – 2012. Hal ini sungguh berbanding terbalik dengan Brasil sebab Brasil berhasil menekan laju penggundulan hutan dari 4 juta hektar pada tahun 2003 menjadi di bawah 2 juta hektar pada dua tahun terakhir ini.

Ada beberapa penyebab mengapa aksi penggundulan hutan di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Salah satunya adalah penebangan liar yang tak terkontrol. Pembabatan hutan secara liar biasanya untuk pemukiman penduduk, pembukaan lahan pertanian, dan pemanfaatan kayu. Padahal, kita sendiri tahu apa arti pentingnya hutan. Hutan merupakan tempat tinggal satwa liar. Rusaknya hutan menyebabkan satwa liar bersaing dengan manusia untuk mencari ruang mendapatkan makan dan hidup. Selain itu, satwa liar yang tergusur habitatnya, bisa terancam punah. Hutan adalah penyimpan gas karbon terbesar di dunia. Gundulnya hutan menyebabkan produksi karbon berlebih, alhasil Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam penghasil gas karbon terbanyak di dunia. Selain itu, hutan juga menyediakan wadah resapan dan tampungan air. Tidak adanya hutan menyebabkan banjir, erosi, dan tanah longsor mudah terjadi.

Ledakan jumlah penduduk yang membutuhkan rumah dan pekerjaan memang menjadikan aksi penggundulan hutan ini tak terelakkan lagi. Berkaitan dengan pembalakkan hutan untuk lahan pertanian, para petani juga membutuhkan lahan untuk berkarya sedangkan di area kota dan pedesaan, lahan pertanian sudah semakin sedikit. Seakan-akan rakyat memilih untuk mengorbankan areal pertanian produktif. Pemerintah pun sudah menetapkan sanksi untuk menghentikan penebangan liar, tetapi tetap saja terjadi. Banyak sekali pihak yang terkait dalam isu deforestasi ini, bagaikan rantai yang saling terhubung dan semuanya sama-sama membutuhkan kekayaan alam yang bersumber dari hutan.

Salah satu cara mengurangi laju penggundulan hutan adalah reboisasi alias penghijauan kembali hutan yang telah gundul. Pihak-pihak yang terlibat dalam penebangan hutan berkewajiban melakukan penanaman kembali sejumlah pohon-pohon yang telah ditebang. Kita, sebagai masyarakat umum, juga patut melakukan penanaman kembali, terutama di daerah gundul dan rawan bencana. Hal ini bisa dilaksanakan melalui komunitas lingkungan tempat tinggal, sekolah, maupun lingkungan kerja. Kemudian, pemerintah sebaiknya memetakan areal produktif ( terutama daerah subur ) yang dikhususkan untuk persawahan dan menertibkan penggunaan lahan sehingga tidak dialihfungsikan secara bebas dan liar. Sehingga, petani tidak tergusur dan terdesak ke hutan untuk membuka lahan persawahan. Aksi peduli lingkungan dari berbagai pihak perlu dilancarkan dan digencarkan agar populasi hutan di tanah air kita ini tidak semakin langka, serta agar bencana tidak lagi terus menerus merundung bumi pertiwi ini.

Sumber foto ( atas ) : tempo.co

Copyright ©2016 PT. Salimas Citra Kencana.  All rights reserved.