Kelangkaan Air Penyebab Gagal Panen

Kelangkaan Air Penyebab Gagal Panen

Berbagai media, baik TV, Internet, maupun koran, memuat berita mengenai kekurangan pengairan untuk sawah di musim kemarau. Peristiwa ini terjadi di berbagai daerah di Indonesia sekaligus, seperti Cirebon, Demak, Kudus, Temanggung, Purworejo, Kutoarjo, Gunung Kidul, Bantul, dan lain-lain. Tahun ini, musim kemarau cenderung lebih panjang karena fenomena El Nino. Curah hujan berkurang sehingga terjadi penyusutan air tanah, air waduk/bendungan, maupun air sungai yang menjadi sumber irigasi para petani. Beberapa waduk pun terpaksa ditutup karena tidak ada air sama sekali di dalamnya.Kelangkaan ini menyebabkan beberapa desa memperebutkan air dari satu sumber yang jelas-jelas tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka semua. Beberapa petani mau tidak mau harus memompa air tanah dengan mesin diesel dan mengeluarkan kocek berkisar Rp 40.000 per jam karena sumur mereka kering. Mereka yang tidak kebagian irigasi dan tidak punya pendanaan terpaksa membiarkan tanamannya gagal panen.

California reservoir - before & after drought

California reservoir – before & after drought

Photo credits: businessinsider.com

Adapun komoditas yang gagal panen bervariasi macamnya, dari padi, salak, cabai, sampai buah-buahan. Dapatkah kita membayangkan apabila sebagian besar tanaman pangan gagal panen? Kelangkaan pangan akan terjadi dan sekali lagi, pemerintah harus mengimpor dari luar negeri. Maka dari itu, hal ini sungguh merupakan keprihatinan yang mendalam bagi kita semua. Memang kekurangan air ini tidak separah negara-negara di Afrika yang amat sangat membutuhkan sumbangan air bersih dari pihak internasional. Tetapi sudah selayaknya kita membantu memikirkan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi kekeringan ini. Ada beberapa solusi yang dapat diterapkan:

1. Perbaikan sistem irigasi.
Pihak pemerintah mendatang harus sungguh-sungguh memperbaiki infrastruktur pengairan agar daerah-daerah pertanian dapat terjangkau semuanya. Beberapa daerah (terutama daerah pelosok) sama sekali tidak mendapatkan pengairan waduk sehingga mereka harus bergantung pada air tanah atau air sungai semata. Perbaikan irigasi di tempat-tempat tersebut bukanlah tidak mungkin, namun akan memakan waktu. Saya yakin program ini membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya mengingat banyaknya areal pertanian di Indonesia, namun penantian ini akan berbuah manis apabila dapat terwujud. Pengairan yang baik akan mempermudah kerja petani, terutama di musim kemarau dan mendongkrak produksi pertanian nasional.

2. Penghematan air.
Air bersih yang kita konsumsi untuk minum dan mandi merupakan hasil pengolahan sumber air (seperti sungai ) dan air tanah. Semakin banyak air bersih yang kita konsumsi, semakin banyak pula air tanah dan air sungai yang disedot oleh PDAM untuk diolah. Sering kali kita memakai air seenaknya bahkan membuang-buang air, baik disengaja maupun tidak. Namun, kita harus mengingat bahwa masih banyak orang yang sangat membutuhkan air namun tidak tercukupi, contohnya petani. Petani membutuhkan air untuk mengairi sawah agar kelak hasil panen mereka bagus dan berlimpah dan bisa dijual untuk “memberi makan” kita. Tidak dapat dibayangkan apabila mereka kekurangan air dan gagal panen, stok pangan akan berkurang dan harga makanan pun dipastikan naik. Memang efeknya belum terasa sekarang, namun apabila kita meneruskan kebiasaan membuang air, harga bahan pangan akan naik drastis dalam 10 tahun ke depan. Apakah kita menginginkan hal tersebut? Jelas tidak! Maka dari itu, kita sebagai sesama penduduk tanah air Indonesia turut bertanggung jawab dan turut serta memelihara ketersediaan air di muka bumi ini, demi kelangsungan hidup kita dan anak cucu kita.

Dari ulasan singkat ini, kita dapat melihat semakin jelas bahwa hidup ini bagaikan sebuah rantai yang berkesinambungan, bahwa tindakan kita berefek pada orang lain dan akibatnya berimbas pada kita juga. Isu kekeringan yang menjadi topik hangat di musim kemarau ini dapat diselesaikan apabila masing-masing pihak saling menyadari kesalahannya dan saling bekerjasama untuk memperbaiki keadaan, bukannya saling menyalahkan satu sama lainnya. Kita, sebagai orang yang berutang budi atas jasa petani, tidak boleh membiarkan mereka sengsara sebab jika tidak ada petani, bagaimana kita bisa makan.

Sumber foto (atas ) : gogreencebu.com

Copyright ©2016 PT. Salimas Citra Kencana.  All rights reserved.