Menyiasati Ketidakstabilan Harga dengan Diversifikasi Tanaman

Menyiasati Ketidakstabilan Harga dengan Diversifikasi Tanaman

Pada masa Idul Fitri dan Lebaran 2014 lalu, harga bahan pangan banyak yang berubah drastis. Contohnya, cabai merah yang harganya anjlok hingga titik terendah. Banyak petani cabai menderita karena tanaman yang mereka rawat dengan susah payah hanya dapat dijual dengan harga yang sangat minim. Akhirnya, mereka kelimpungan tidak dapat membayar utang. Beberapa merasa marah sebab kerja keras mereka sia-sia, sehingga hasil panennya sengaja dibiarkan membusuk, bahkan ada yang sudah dipetik namun dibuang. Sempat terdengar kabar bahwa beberapa petani, saking stress dan murkanya, membakar hasil panen mereka.

Perubahan harga bahan pangan sangat sering terjadi di Indonesia. Harga-harga tidak stabil:  bisa terjun bebas, tapi juga dapat melambung luar biasa tinggi. Untuk menghindari ketidakstabilan harga yang berpotensi merugikan kaum petani dan khalayak umum, kawan-kawan petani dapat menanam beragam tanaman. Cobalah memilih tanaman yang sesuai dengan kondisi setempat, namun jenisnya berbeda. Sehingga Anda tidak akan terlalu menggantungkan hidup pada satu jenis tanaman saja. Misalnya, Anda menanam cabai dan kacang tanah. Ketika harga cabai mendadak turun drastis, harga kacang tanah tidak akan terpengaruh bahkan bisa naik. Sehingga kerugian tidak akan dirasa terlalu besar karena Anda masih memiliki dagangan lain yang bisa dijual dengan harga cukup bagus dan masih dapat menyokong kebutuhan hidup Anda. Coba bayangkan kalau Anda hanya menanam cabai dan harga jualnya sangat rendah, maka Anda jelas sangat kecewa karena tidak balik modal, bahkan merugi. Hutang pun makin menumpuk dan Anda akan makin terjepit karenanya.  Namun ketika ada berbagai macam komoditas yang dapat diperdagangkan dengan harga yang tentunya berbeda-beda, Anda lebih tenang karena masih ada panenan lain yang dapat dijual dengan harga relatif baik.

Menanam beragam tanaman dapat dilakukan di lahan berbeda dan dapat pula dilaksanakan dengan sistem tumpang sari. Di satu lahan yang sama, Anda dapat menanam bermacam-macam jenis tanaman dengan catatan bahwa mereka tidak akan saling merusak atau berebut makanan satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, Anda dapat menanam cabai dan di pinggirnya ditanam loncang/ daun bawang.

Tumpang Sari Polyculture Super Max

Teknik tumpang sari : sawi, loncang, cabai

Cara lainnya, rekan-rekan petani harus berusaha untuk tidak terbawa arus lingkungan sekitar. Maksudnya adalah jangan sekedar ikut-ikutan orang lain. Contohnya , ketika harga cabai naik, satu desa langsung serentak menanam cabai semuanya. Efek ini menjalar hingga ke desa sebelah-sebelahnya, bahkan ke kota-kota lain. Akibatnya, pasokan cabai berlimpah padahal permintaan lebih sedikit dari pasokannya, sebab konsumen pasti mengurangi pembelian cabai ketika harga naik. Saat pasokan bawang terlalu banyak, harga mulai turun. Jika harga terus turun, banyak petani merugi dan sengsara. Ilustrasi ini menggambarkan salah satu faktor penyebab harga-harga bahan pangan terjun bebas. Seharusnya, Anda berani tampil beda. Ketika yang lain tanam cabai, Anda bisa tanam komoditas lain. Dengan adanya kelompok tani di area tempat tinggal masing-masing, pembagian komoditas dapat dilakukan lebih mudah dan lebih adil. Melalui musyawarah untuk mufakat, para petani dapat meraih kesepakatan bersama mengenai tanaman yang baik untuk ditanam dan siapa yang tepat untuk membudidayakannya.

Beberapa waktu yang lalu, tim Super Max turun lapangan dan menyaksikan sendiri bahwa ada sepetak lahan yang disulap menjadi lahan cabai di saat tetangga sebelahnya semua tanam padi ( berhubung musim padi ). Ini merupakan taktik untuk menghindari persaingan pasar. Petani tersebut menghasilkan cabai di saat tidak musim cabai. Akibatnya, harga panen petani tersebut bisa lebih tinggi sebab pasokan cabai di pasaran sedang sedikit. Strategi variasi tanaman semacam ini dapat menjauhkan Anda dari resiko ketidakstabilan harga pangan.

Sumber foto ( paling atas ):  jogjaportal.com

Copyright ©2016 PT. Salimas Citra Kencana.  All rights reserved.